7 Tips Mengajarkan Sopan Santun pada Anak yang Efektif
- byLakek
- 08 Desember 2025
- 1 month ago
ilustrasi orang tua mengajarkan anak tentang sopan santun sejak usia dini, sumber : google
KABARANAK - Sopan santun adalah aspek penting dalam perkembangan anak yang membantu mereka berinteraksi dengan baik dalam berbagai situasi sosial. Mengajarkan sopan santun sejak dini penting untuk membentuk karakter dan keterampilan sosial anak yang positif. Tips mengajarkan sopan santun pada anak yang paling mudah adalah memberikan contoh. Orangtua perlu menerapkan sikap sopan secara langsung, menceritakan kisah, dan banyak melatih anak perihal budi pekerti, dan berikan pujian. Mengajarkan anak sopan santun bisa dimulai sejak dini, yaitu usia 2-3 tahun.
Cara Mengajarkan Sopan Santun pada Anak
Mengajarkan sopan santun kepada anak adalah bagian penting dari pembentukan karakter anak. Berikut adalah beberapa cara efektif untuk mengajarkan etika dan tata krama kepada anak:
1. Ceritakan Kisah
Cara menanamkan budaya sopan santun sejak usia dini yang bisa dilakukan adalah menggunakan cerita atau dongeng. Cerita yang menarik dan penuh dengan karakter yang menunjukkan perilaku baik dapat memberikan contoh yang mudah dipahami dan diingat. Pilihlah cerita yang menonjolkan nilai-nilai seperti berbagi, menghargai orang lain, atau meminta maaf. Misalnya, cerita tentang seorang karakter yang selalu mengatakan “tolong” dan “terima kasih” setiap kali mereka menerima bantuan dari orang lain dapat menunjukkan kepada anak pentingnya penggunaan kata-kata sopan dalam kehidupan sehari-hari. Membaca atau mendongeng secara rutin tidak hanya membuat anak memahami konsep sopan santun, tetapi juga mengajarkan mereka bagaimana menerapkannya dalam situasi nyata.
2. Latihan
Latihan rutin adalah cara mengajarkan etika pada anak selanjutnya yang bisa dilakukan. Ajak anak untuk berlatih menggunakan kata-kata sopan dalam berbagai situasi sehari-hari. Misalnya, latih mereka untuk meminta izin sebelum mengambil barang dari orang lain, mengucapkan “terima kasih” setelah menerima bantuan, atau meminta maaf jika mereka melakukan kesalahan. Anda bisa membuat latihan ini menjadi bagian dari rutinitas harian, seperti saat makan malam atau bermain bersama. Dengan melakukan latihan secara konsisten, anak-anak akan lebih mudah mengingat dan menerapkan sopan santun sebagai bagian dari kebiasaan mereka.
3. Berikan Pujian
Memberikan pujian kepada anak saat mereka menunjukkan perilaku sopan sangat penting untuk memotivasi mereka dan memperkuat kebiasaan baik. Ketika anak mengucapkan “tolong” atau “terima kasih” dengan benar, atau menunjukkan perilaku hormat lainnya, beri mereka pujian yang spesifik dan tulus. Misalnya, katakan, “Mama sangat bangga karena kamu sudah mengatakan ‘terima kasih’ kepada adikmu. Itu menunjukkan betapa sopannya kamu”. Pujian ini tidak hanya membuat anak merasa dihargai, tetapi juga memperkuat perilaku positif, membantu mereka memahami bahwa tindakan sopan santun dihargai dan diharapkan.
4. Jadilah Teladan
Anak-anak sering kali meniru perilaku orang dewasa di sekitar mereka, jadi penting untuk menjadi contoh yang baik dalam hal sopan santun. Jika ingin anak-anak menggunakan kata-kata sopan seperti “maaf,” “tolong,” dan “terima kasih,” pastikan menggunakannya dalam interaksi sehari-hari. Contohnya, saat berbicara dengan pasangan atau rekan kerja, tunjukkan sikap hormat dan sopan santun. Ketika anak melihat berperilaku sopan dan menghormati orang lain, mereka akan lebih cenderung meniru perilaku tersebut dan menganggapnya sebagai norma dalam kehidupan mereka.
5. Diskusikan Situasi Sosial
Ajarkan anak tentang sopan santun dengan berdiskusi tentang berbagai situasi sosial yang mungkin mereka temui. Diskusi ini dapat mencakup bagaimana cara berbicara dengan sopan kepada orang dewasa, bagaimana berperilaku di pesta ulang tahun, atau bagaimana bertindak di tempat umum seperti restoran atau taman. Gunakan skenario atau contoh sehari-hari untuk membantu anak memahami bagaimana sopan santun diterapkan dalam situasi yang berbeda. Misalnya, bicarakan tentang pentingnya menunggu giliran saat berbicara, bagaimana cara meminta izin sebelum meminjam sesuatu, dan pentingnya mendengarkan dengan penuh perhatian ketika orang lain berbicara. Dengan berdiskusi tentang situasi ini, anak-anak dapat belajar cara sopan santun kepada orang tua dan menghargai orang lain dalam berbagai konteks sosial.
6. Gunakan Pengalaman Nyata
Manfaatkan kesempatan sehari-hari untuk mengajarkan sopan santun dengan menggunakan pengalaman nyata. Misalnya, saat sedang berbelanja atau makan di luar, tunjukkan kepada anak bagaimana cara meminta sesuatu dengan sopan, seperti mengatakan “tolong” saat meminta bantuan atau “terima kasih” setelah menerima layanan. Saat berada di tempat umum, ajarkan anak bagaimana berperilaku hormat terhadap orang lain, seperti tidak berbicara keras atau mengganggu. Gunakan kesempatan ini untuk menjelaskan kepada anak mengapa sopan santun penting dan bagaimana tindakan mereka dapat memengaruhi pengalaman orang lain.
7. Terapkan Rutinitas Harian
Terapkan sopan santun ke dalam rutinitas harian anak untuk membantu mereka terbiasa dengan perilaku baik. Ajak anak berdoa sebelum makan sebagai bentuk rasa syukur dan penghargaan. Ajarkan mereka cara menyapa orang dengan ramah, seperti mengatakan “selamat pagi” atau “selamat sore” kepada anggota keluarga atau teman. Terapkan kebiasaan meminta maaf ketika mereka melakukan kesalahan atau mengganggu orang lain. Dengan menyertakan sopan santun dalam kegiatan sehari-hari, anak-anak akan lebih mudah mengingat dan mempraktikannya secara konsisten. Rutinitas ini membantu anak memahami bahwa sopan santun bukan hanya untuk situasi tertentu, tetapi merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.
Kesimpulan
Mengajarkan sikap sopan santun kepada anak adalah hal yang sangat penting dalam aspek perkembangan anak dalam kehidupan sehari-hari sehingga ketika beranjak dewasa sudah terbiasa melakukan sikap sopan santun dan masyarakat juga dapat menerima kita dengan baik.
Lakek
Seorang penulis yang lahir tidak sengaja. dan hadir ke dunia tanpa rencana dan tanpa persiapan dari siapa pun, namun keberadaannya tetap memiliki arti, nilai, dan tujuan yang tidak ditentukan oleh bagaimana ia dilahirkan, melainkan oleh bagaimana ia menjalani hidup, bertumbuh, dan memberi makna bagi dirinya sendiri maupun orang lain.


