30 Januari 2026

Kabar Anak adalah Informasi Keluarga Bahagia, Parenting, Cerita Ibu dan Cerita Ayah

6 Alasan Anak Indonesia Tertinggal 50 Tahun dari Negara Maju

6 Alasan Anak Indonesia Tertinggal 50 Tahun dari Negara Maju gambar dari AI

Isu ketertinggalan sumber daya manusia Indonesia dibandingkan negara maju bukanlah sekadar persoalan ekonomi atau teknologi. Akar masalahnya jauh lebih dalam: pola pikir, budaya belajar, dan cara memandang pendidikan.

Jika kita jujur bercermin, perbedaan ini sudah terlihat sejak usia muda. Berikut beberapa alasan utama mengapa anak Indonesia dinilai tertinggal jauh dari anak-anak di negara maju.


1. Terlalu Banyak Energi untuk Hal Tidak Esensial

Banyak anak muda Indonesia menghabiskan waktu untuk hal-hal yang kurang berdampak jangka panjang: drama media sosial, konten viral sesaat, atau sekadar mencari hiburan tanpa tujuan.

Sementara itu, anak-anak di negara maju sejak dini sudah terbiasa berpikir:

  • Bagaimana membuat transportasi lebih cepat?

  • Bagaimana menciptakan teknologi yang lebih efisien?

  • Bagaimana memecahkan masalah nyata di masyarakat?

Bukan berarti hiburan itu salah, tetapi ketika hiburan menjadi pusat hidup, maka kemajuan akan sulit dikejar.


2. Rendahnya Budaya Menghargai Guru dan Ilmuwan

Di negara maju, guru, dosen, dan profesor ditempatkan pada posisi yang sangat terhormat. Mereka dipandang sebagai sumber ilmu yang telah melalui proses panjang dan mendalam.

Sebaliknya, di Indonesia:

  • Banyak pelajar merasa “sudah tahu segalanya”

  • Kritik sering muncul tanpa dasar keilmuan

  • Ilmu dianggap opini, bukan hasil riset

Padahal, belajar dari orang yang jauh lebih ahli adalah kunci kemajuan peradaban.


3. Pendidikan Masih Diperdebatkan, Bukan Diperjuangkan

Di banyak negara maju, pendidikan diyakini sebagai satu-satunya jalan utama untuk mengubah nasib hidup. Tidak ada perdebatan soal penting atau tidaknya sekolah.

Namun di Indonesia, kita masih sering mendengar:

  • “Sekolah tinggi tapi nganggur”

  • “Yang penting bisnis, sekolah nomor dua”

  • “Belajar nggak menjamin sukses”

Pola pikir seperti ini secara perlahan menggerus semangat belajar dan merusak fondasi kemajuan bangsa.


4. Konsumen Teknologi, Bukan Pencipta

Anak Indonesia sebagian besar masih fokus pada:

  • Cara memakai teknologi

  • Aplikasi apa yang sedang tren

  • Gadget apa yang paling baru

Sementara anak di negara maju sudah melangkah lebih jauh:

  • Menciptakan teknologi pesawat dan kapal

  • Mengembangkan kecerdasan buatan (AI)

  • Merancang sistem masa depan

Perbedaan antara pengguna dan pencipta teknologi adalah jurang besar kemajuan.


5. Budaya Belajar yang Lemah dan Tidak Konsisten

Di negara maju, belajar bukan sekadar kewajiban sekolah, tetapi gaya hidup. Mereka terbiasa membaca, meneliti, berdiskusi, dan memperbaiki kesalahan.

Di Indonesia, belajar sering berhenti setelah:

  • Lulus ujian

  • Dapat ijazah

  • Mendapat pekerjaan

Padahal dunia terus berubah, dan yang berhenti belajar akan tertinggal.


6. Gap yang Terjadi Sejak Usia Dini

Ketertinggalan ini bukan terjadi secara tiba-tiba. Sejak kecil, perbedaan pola pikir sudah terlihat.

Analoginya sederhana:

  • Kita baru belajar cara melangkah

  • Mereka sudah belajar bagaimana memenangkan maraton internasional

Ketika kesadaran ini datang terlambat, jarak yang harus dikejar menjadi semakin jauh.


Penutup: Saatnya Mengubah Arah

Artikel ini bukan untuk merendahkan, melainkan mengajak untuk sadar dan berbenah. Indonesia punya potensi besar, tetapi potensi tanpa budaya belajar hanya akan menjadi cerita.

Jika ingin mengejar ketertinggalan, tidak ada jalan pintas selain:

Belajar, belajar, dan terus belajar.

Karena masa depan bangsa ditentukan oleh seberapa serius generasi mudanya mempersiapkan diri hari ini.

Keep learning and learning.

img
Penulis

Zeta

Seorang penulis yang fokus pada dunia anak dan parenting. Gemar berbagi tips pola asuh, edukasi anak, serta inspirasi keluarga yang penuh cinta.