5 Penyebab Anak Tantrum dan Cara Menghadapinya dengan Tenang
- byLakek
- 27 Januari 2026
- 3 days ago
Ilustrasi anak yang sedang tantrum
Kabaranak.com- Melihat si Buah Hati tantrum terutam di tempat umum, memang bisa membuat orang tua merasa kewalahan. Namun, penting untuk memahami bahwa tangisan dan teriakan tidak selalu menandakan sesuatu yang tidak normal. Umumnya, tantrum terjadi karen anak belum mampu mengekspresikan perasaannya dengan baik.
Daripada menganggapnya sebagai ‘bencana besar’, bunda bisa melihat momen ini sebagai kesempatan untuk belajar dan memahami emosi si buah hati. Dengan begitu, bunda dapat merespons dengan lebih tenang dan tepat, sekaligus membantu anak mengenali cara yang lebih baik untuk mengungkapkan perasaannya.
Kenapa Anak Tantrum?
Melansir dari Neymour KidsHealth, tantrum merupakan hal yang normal pada masa perkembangan anak dan biasanya terjadi ketika mreka berusia 1 sampai 3 tahun. Anak-anak cenderung tantrum untuk menunjukkan bahwa anak merasa kesal atau frustasi. Tantrum pada anak-anak sangat bervariasi mulai dari mengeluh terus menerus, menangis hingga berteriak, menendang, memukul, dan menahan napasnya.
5 Penyebab Utama Anak Tantrum
Sebelum memahami bagaimana cara mengendalikan tantrum pada si buah hati, berikut ini beberapa penyebab tantrum pada anak seperti yang dilansir dari Neymour KidsHealth dan Nurtured First.
-
Anak merasa lelah, lapar, atau overstimulasi
Sama halnya seperti orang dewasa, seorang anak akan mengalami tantrum ketika merasa lelah berlebihan, misalnya rewel hingga menangis dan memukul orang di sekitarnya. Saat merasa lapar, kadar gula dalam darahnya akan menurun. Kondisi ini dpat membuatnya kehabisan energi dan membuat anak kesulitan untuk mengontrol emosinya. Terlalu banyak rangsangan akibat keramaian, suara bising, aktivitas yang padat, atau overstimulasi dari lingkungan sekitar juga dapat membuat anak kewalahan yang akhirnya berujung pada ledakan emosinya. -
Kehilangan kontrol atas dirinya
Anak-anak juga cenderung ingin selalu bisa mengontrol semua yang ada di hidupnya, sehingga mereka lebih mudah mengalami ledakan emosi ketika tidak bisa mendapatkan sesuatu yang diinginkan (mainan, makanan, permen, atau hp) atau tidak bisa membuat seseorang melakukan apa yang anak inginkan (seperti mencari perhatian orang tua). - Kemampuan bahasa yang terbatas
Faktor pemicu tantrum selanjutnya adalah kemampuan bahasa yang masih terbatas. Bagi anak-anak usia 1-3 tahun, kata-kata yang menggambarkan perasaan sangatlah rumit, sehingga membuat mereka kesulitan untuk mengekspresikan apa yang anak rasakan, inginkan, atau butuhkan melalui kata-kata, sehingga meluapkannya dengan tantrum. Namun tak perlu khawatir, seiring dengan pertambahan usia dan perkembangan kemampuan bahasanya, tantrum pada anak cenderung berkurang. - Perkembangan otak yang belum sempurna
Otak anak belum berkembang dengan sempurna. Untuk dapat mengatur emosi, anak-anak perlu berfikir dengan logis. Namun, bagian otak ini belum berkembang sempurna hingga anak berusia 5 tahun hingga 7 tahun, sehingga anak-anak cenderung lebih impulsive, emosional, dan tidak logis. - Lingkungan yang tidak kondusif
Lingkungan yang tidak kondusif dapat menyulitkan anak-anak untuk beradaptasi, sehingga anak cenderung lebih rewel dan mudah tantrum. Misalnya saat mereka terbiasa di tempat tenang, berAC, dan rapi akan lebih mudah rewel ketika mengunjungi tempat baru dengan kondisi yang berbeda (panas, ramai, dan cenderung berantakan), seperti warung makan atau restoran, kendaraan umum atau ketika berkunjung ke ruma saudara.
Cara Mengendalikan Tantrum dengan Tenang
Alih-alih ikut emosi dan memarahi si buah hati saat tantrum, berikut ini beberapa cara mengendalikan tantrum dengan tenang seperti yang dilansir dari Healthline:
1. Pertama-tama pastikaan keamanan si buah hati, terutama jika mereka tantrum yang cukup parah (menangis, berteriak, atau berbaring di lantai tempat umum), maka segera bawa atau pindahkan si buah hati ke area yang lebih sepi dimana mereka biasa meluapkan amarahnya dengan lebih leluasa. Namun jika bunda khawatir anak akan terluka, segera berikan pelukan untuk meredam emosinya.
2. Tetap tenang dan ‘abaikan’ perilaku tantrum anak dengan mengalihkan pandangan ke hal lain, terutama jika anak tantrum dengan tujuan untuk mendapatkan perhatian orang tuanya. Namun, mengabaikan anak dalam hal ini sambil tetap memperhatikan untuk memastikan anak tetap aman.
3. Segera alihkan perhatian anak kepada aktivitas menarik lainnya, misal menggambar, bermain puzzle, atau permainan lain yang sesuai dengan usianya.
4. Mengajarkan anak untuk mengatasi emosinya dengan tenang melalui kata-kata. Setelah kondisinya mulai tenang, coba ajak diskusi dengan bekata “Menangis, berteriak, atau memukul itu nggak baik dan nggak bisa dilakukan untuk mendapatkan perhatian dari bund ya, Nak. Kalau kamu sudah merasa tenang, yuk kita ngobrol dan jelasin pelan-pelan kenapa sampai kamu seperti ini ”. Dengan begini, anak pun belajar untuk mengekspresikan perasaannya dengan lebih baik lagi.
5. Lakukan time out atau waktu istirahat bagi anak ketika tantrumnya sudah sangat keras dan mengganggu. Berikan waktu dan ruang bagi si buah hati untuk istirahat selama 5 menit. Ajak anak untuk berdiam diri di ruangan atau lingkungan yang aman, misal di kamar atau ruangan terbuka yang cukup sepi ketika berada di tempat umum. Setelah tenang, bunda bisa mengajaknya berbicara.
6. Berikan contoh tentang bagaimana cara mengatasi emosi atau ketika menghadapi masalah dengan baik dan tenang. Setelah anak mulai merasa tenang dan bisa mengontrol emosinya, berikan pujian atas kemajuannya (tanpa menuruti segala permintaan yang menjadi factor pemicu tantrum).
7. Kosisten menghadapi anak tantrum dengan tenang. Meski terkadang akan sangat melelahkan, namun percayalah bahwa jika dilakukan dengan konsisten maka akan membuahkan hasil yang baik.
Kesimpulan
Tantrum merupakan bagian normal dari proses tumbuh kembang anak, terutama pada usia 1–3 tahun, yang umumnya terjadi karena keterbatasan anak dalam mengelola dan mengekspresikan emosinya. Berbagai faktor seperti rasa lelah, lapar, keinginan untuk mengontrol situasi, kemampuan bahasa yang belum matang, perkembangan otak yang belum sempurna, serta lingkungan yang tidak kondusif dapat memicu munculnya tantrum.
Oleh karena itu, orang tua diharapkan tidak langsung menganggap tantrum sebagai perilaku negatif, melainkan sebagai kesempatan untuk memahami kebutuhan dan emosi si buah hati. Dengan tetap tenang, konsisten, serta menerapkan cara penanganan yang tepat, seperti memastikan keamanan anak, mengalihkan perhatian, mengajarkan cara mengekspresikan emosi dengan kata-kata, dan memberi contoh yang baik, orang tua dapat membantu anak belajar mengelola emosinya dengan lebih sehat. Seiring waktu dan perkembangan usia, tantrum pun akan berkurang dan anak menjadi lebih mampu mengungkapkan perasaannya secara positif.
Tags:
Lakek
Seorang penulis yang lahir tidak sengaja. dan hadir ke dunia tanpa rencana dan tanpa persiapan dari siapa pun, namun keberadaannya tetap memiliki arti, nilai, dan tujuan yang tidak ditentukan oleh bagaimana ia dilahirkan, melainkan oleh bagaimana ia menjalani hidup, bertumbuh, dan memberi makna bagi dirinya sendiri maupun orang lain.


